jump to navigation

Laporan Singkat Hasil survey populasi biawak Komodo dan Populasi mangsa Komodo di Cagar Alam Wae Wuul Juni – Juli 2009 August 4, 2009

Posted by ekologi in Uncategorized.
add a comment

Laporan Singkat Hasil survey populasi biawak Komodo dan Populasi mangsa Komodo di Cagar Alam Wae Wuul Juni – Juli 2009
Survey populasi biawak komodo dan mangsanya di dalam Kawasan Cagar Alam Wae Wuul Flores Barat telah dilakukan sejak tanggal 22 Juni hingga 19 Juli 2009. Metode lapangan yang digunakan untuk mendapatkan perkiraan populasi Biawak Komodo di Cagar Alam Wae Wuul adalah dengan menangkap menandai melepas dan menangkap kembali (Capture Mark Release Recapture). Metode ini dilakukan dengan menempatkan 26 perangkap yang disebar merata di dalam kawasan Cagar Alam Wae Wuul, setelah tertangkap, Biawak Komodo akan diukur dan ditandai, setelah itu, Biawak Komodo yang sudah ditandai akan dilepas kembali. Sementara itu, untuk mendapatkan nilai kepadatan mangsa Biawak Komodo (terutama Rusa), metode lapangan yang digunakan adalah metode penghitungan kotoran (pellet group) dalam setiap 30 titik/plot berdiameter 2 meter yang terletak di setiap 10 meter pada garis transek sepanjang 30 meter, dengan jumlah total garis transek sebanyak 40. Selain itu, untuk mendapatkan perkiraan nilai populasi mangsa Biawak Komodo, dilakukan juga penghitungan langsung dengan menggunakan metode jarak sepanjang garis transek.
Selama 22 hari survey populasi Biawak Komodo, diperoleh 17 ekor Biawak Komodo yang tertangkap, ditandai dan dilepas kembali. Dari 17 ekor Biawak Komodo yang tertangkap, hampir sebagian besar berukuran di bawah 4 Kg, dengan hanya satu ekor berukuran yang paling besar yaitu 19 Kg. Selama survey tidak pernah terlihat Biawak Komodo yang mempunyai ukuran lebih dari 20 Kg. Sementara itu, jumlah penghitungan kotoran rusa pada plot sepanjang garis transek yang berjumlah 40, menunjukan nilai yang sangat kecil (rata-rata dibawah 1 grup pelet pertransek), nilai rendah juga didapat dengan menggunakan metode penghitungan langsung sepanjang garis transek, yaitu hanya terdapat lima perjumpaan.
Berdasarkan data lapangan yang belum lama diperoleh, Populasi Biawak Komodo di Cagar Alam Wae Wuul berada dalam kondisi yang rentan untuk punah, selain terdapat penurunan yang signifikan sejak survey yang dilakukan tahun 1991, 2000 dan tahun lalu (Nopember 2008), tidak terdapatnya ukuran dewasa akan mengkhawatirkan untuk rekrutmen individu baru dalam populasi. Rendahnya ukuran populasi di Cagar Alam Wae Wuul juga berkaitan dengan rendahnya jumlah Rusa yang merupakan mangsa utama Biawak Komodo. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan usaha-usaha untuk pengelolaan habitat agar populasi Komodo dan Rusa kembali meningkat. selain itu usaha-usaha pengamanan juga perlu dilakukan beriringan dengan usaha pengelolaan habitat untuk mencegah terjadinya ancaman yang mengganggu proses ekologis dalam kawasan Cagar Alam Wae Wuul, seperti pencegahan kebakaran hutan.

Siaran Press KSP tentang Biawak Komodo di CA Wae Wuul August 4, 2009

Posted by ekologi in Uncategorized.
add a comment

No : 15/KSP-1/2009 Denpasar, 28 Juli 2009
Hal : Siaran Press KSP tentang Biawak Komodo di CA Wae Wuul
Sehubungan dengan kegiatan survey populasi biawak Komodo (Varanus komodoensis) dan mangsanya yang dilaksanakan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur (Balai Besar KSDA NTT) bekerjasama dengan Komodo Survival Program (KSP) di Cagar Alam Wae Wuul, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, antara 22 Juni hingga 19 Juli 2009, sebagai implementasi naskah Perjanjian Kerjasama antara BALAI BESAR KSDA NTT NTT dan KSP tentang Penelitian dan Pemantauan Populasi Biawak Komodo dan Keanekaragaman Hayati Beserta Habitatnya di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang ditandatangani pada tanggal 3 Maret 2008, dengan ini kami menyampaikan laporan sementara sebagai informasi mengenai keadaan terkini populasi biawak Komodo di CA Wae Wuul.
Dari hasil survey menggunakan metode penangkapan dan penandaan selama 22 hari dengan menggunakan 26 titik perangkap dan pencarian secara aktif meliputi kawasan seluas 14.484 ha (14.8 km2), hanya 17 individu yang terpantau di CA Wae Wuul. Sementara survey populasi mangsa utama biawak Komodo yang diukur menggunakan metode transek plot menunjukkan indeks kepadatan populasi Rusa Timor (Cervus timorensis) sebesar 0.48/transect.
Survey yang dilakukan pada tahun 1991 oleh PHKA menemukan 66 Komodo di Wae wuul dan area sekitarnya, sedangkan survey pada tahun 2000 oleh Ciofi dan De Boer bersama dengan Balai Besar KSDA NTT II, hanya 19 Komodo saja yang tertangkap, dengan kepadatan populasi 10 kali lebih rendah dibandingkan yang tertangkap di Taman Nasional Komodo. Pada survey yang dilakukan oleh BALAI BESAR KSDA NTT NTT dan KSP tahun 2008, hanya 10 kali perjumpaan saja 6 titik penempatan umpan gantung dari 16 lokasi tempat pengumpanan di Cagar Alam Wae Wuul. Sedangkan survey pada 2009 hanya 17 individu yang tertangkap. Indeks kepadatan Rusa Timor pada tahun 2008 tercatat 0.48/transek sedangkan pada survey tahun 2009 diperoleh nilai kepadatan dibawah 1/km2, menunjukkan adanya penurunan kepadatan populasi mangsa.
Berdasarkan hasil survey tersebut diatas, sangat jelas bahwa populasi biawak Komodo di Wae Wuul sangat terancam. Faktanya, populasi Komodo disana telah mengalami penurunan yang signifikan dalam kurun waktu 18 tahun. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya kepadatan Rusa Timor sebagai mangsa biawak Komodo dan tingginya tekanan aktivitas manusia seperti perburuan Rusa dan pembakaran padang rumput di sekitar dan di dalam kawasan.
Berdasar fakta tersebut, sehubungan dengan izin penangkapan biawak Komodo yang Bapak keluarkan melalui SK.384/Menhut-II/2009 tanggal 13 Mei 2009 tentang izin penangkapan 10 ekor biawak Komodo dari habitat aslinya di CA Wae Wuul, yang secara administratif termasuk kedalam wilayah Desa Macan Tanggar dan Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, dengan ini kami menyarankan agar Bapak dapat mempertimbangkan pembatalan SK.384/Menhut-II/2009. Penangkapan 10 individu biawak Komodo di CA Wae Wuul akan sangat mempengaruhi keberadaan populasi tersebut. Kami khawatir penangkapan tersebut akan menyebabkan kepunahan biawak Komodo di Flores, khususnya di CA Wae Wuul yang mewakili keragaman genetik terpisah dari Taman Nasional Komodo.
Hingga saat ini, berbagai Kebun binatang di Indonesia telah bekerja dengan baik dalam membiakkan Komodo di penangkaran dan menurut pusat penelitian biologi LIPI, Komodo asal flores terdapat di tiga kebun binatang di Jawa: Ragunan (44 ekor), Gembira Loka (26 ekor), Surabaya (11 ekor). Alternatif yang mungkin dilakukan oleh kebun binatang Indonesia (dan luar negeri) yang lain untuk menambah jumlah koleksi Komodo adalah dengan mengandalkan Komodo yang ada dari kebun binatang – kebun binatang di Indonesia yang telah berhasil membiakkan Komodo. Populasi Komodo dalam penangkaran ini cukup mewakili secara genetis dan merupakan sumber yang baik untuk program penangkaran Komodo.
Oleh karena itu, kami menyarankan rencana perlindungan khusus untuk populasi Komodo yang tersisa di Cagar Alam Wae Wuul. EAZA akan melanjutkan membantu menyediakan dana untuk kegiatan perlindungan komodo yang dilaksanakan oleh Balai Besar KSDA NTT dan KSP.
Demikian surat ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Hormat kami,
Deni Purwandana
Program Coordinator

Resiko ancaman kepunahan biawak Komodo di CA Wae Wuul July 26, 2009

Posted by ekologi in Uncategorized.
Tags: , , , ,
add a comment

Resiko ancaman kepunahan biawak Komodo di CA Wae Wuul

Pada populasi kecil, dibawah 200 individu (Lande et al 2000), seperti halnya biawak Komodo di Flores – termasuk CA Wae Wuul, resiko kepunahan menjadi sangat tinggi (Purvis et al, 2000) karena :

1. Pada populasi kecil potensi untuk berkembang biak sangat rendah akibat sedikitnya dan terpencarnya individu yang dapat bereproduksi. Pada populasi biawak Komodo di CA Wae Wuul, potensi untuk terjadinya perkawinan sangatlah rendah akibat terpencarnya individu-individu (lihat peta sebaran komodo di Wae Wuul).
2. Pada populasi kecil yang memiliki masa “life history” lambat (usia matang seksual untuk kawin dan masa mengerami telur yang lama) memiliki tingkat kepunahan tinggi karena resiko kematian lebih tinggi dari pada potensi rekrutmen. Biawak Komodo diketahui memiliki pola life history yang lambat, di mana usia matang seksualnya pada usia 5 tahun dan mereka bertelur tidak setiap tahun. Selain itu di Wae Wuul hingga saat ini tidak ditemukan lokasi yang berpotensi digunakan untuk bersarang.
3. Populasi kecil yang berada pada puncak rantai makanan, seperti halnya biawak Komodo, sangat rentan terhadap gangguan yang terjadi pada mangsanya. Berdasar survey KSP pada 2008 dan 2009, Mangsa biawak Komodo di CA Wae Wuul, khususnya rusa, sangatlah rendah (grafik) dibandingkan dengan kondisi mangsa di TN Komodo di mana populasi biawak Komodo di sana relative lebih aman.
4. Populasi kecil pada jenis-jenis yang memiliki wilayah jelajah sangat luas memiliki resiko kepunahan sangat tinggi karena dampak gangguan yang terjadi di dalam wilayah jelajahnya, seperti kehilangan dan gangguan habitat, perburuan, serta kompetisi dengan jenis lain, akan sangat berpengaruh. Biawak Komodo dewasa diketahui memilki luasan wilayah jelajah 2.78-5.4 km2, sementara di wilayah sekitar CA Wae Wuul sangat rawan terjadi kebakaran hutan, padang rumput, konversi habitat, perburuan rusa, bahkan tindakan manusia yang menganggap biawak Komodo sebagai ancaman baginya, yang secara langsung sangat berpengaruh terhadap tingginya resiko kepunahan biasak Komodo di CA Wae Wuul.
Terlepas dari argument di atas, hingga saat ini populasi biawak Komodo di Flores termasuk di CA Wae Wuul belum mendapat perhatian yang cukup baik dari sisi kajian ilmiah maupun dari sisi pengelolaan (monitoring berkala, pengamanan, atau pembinaan habitat), sehingga masih diperlukan kajian lebih mendalam untuk dapat menentukan layak tidaknya pengambilan individu dari populasi ini. Kami menyarankan adanya rencana pemantauan dan perlindungan khusus untuk populasi Komodo yang tersisa di Cagar Alam Wae Wuul.

Scientists discover deadly secret of Komodo’s bite May 25, 2009

Posted by ekologi in Uncategorized.
add a comment

Scientists discover deadly secret of Komodo’s bite
AFP

Scientists discover deadly secret of Komodo’s bite AFP/File – The world’s largest lizard, the Komodo dragon, has a snake-like venom in its bite which sends victims …
Tue May 19, 3:31 am ET

SYDNEY (AFP) – The world’s largest lizard, the Komodo dragon, has a snake-like venom in its bite which sends victims into shock and stops their blood from clotting, according to Australian research.

It had been widely believed that deadly bacteria in the carnivorous lizard’s mouth helped kill its prey.

But magnetic resonance imagery has for the first time uncovered venom glands containing a shock-inducing poison which increases blood flow and decreases blood pressure, scientists say.

Lead researcher Bryan Fry said three-dimensional computer imaging comparing the Komodo’s bite with that of Australia’s saltwater crocodile showed it used a “grip and rip” pulling manoeuvre to tear deep wounds, similar to a shark or sabre cat.

Fry surgically removed a venom gland from a terminally ill Komodo at Singapore Zoo for the study, and said it contained a highly toxic poison which would induce potent stomach cramps, hypothermia and a drop in blood pressure.

The venom also blocked the blood’s clotting ability, he said.

“Such a fall in blood pressure would be debilitating in conjunction with blood loss and would render the envenomed prey unable to escape,” he said.

“These results are congruent with the observed unusual quietness and apparent rapid shock of prey items.”

Komodos are the world’s heaviest lizard, typically weighing 70 kilograms (150 pounds) and growing up to three metres (10 feet) in length.

They are native to several Indonesian islands and are considered a vulnerable species, with only a few thousand left in the world.

They live on a diet of large mammals, reptiles and birds but have been known to attack humans.

An Indonesian fisherman was in March mauled to death by a Komodo dragon after he ventured into a remote island sanctuary for the giant killer lizards

Sumber: http://news.yahoo.com/s/afp/20090519/sc_afp/scienceanimalkomodoaustralia_20090519073836

September 24, 2008

Posted by ekologi in Uncategorized.
add a comment

Laporan Kegiatan

Sosialisasi Pengamanan di Kawasan Cagar Alam Wae Wuul (CAWW)
Komodo survival program dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya ALam Nusa Tenggara Timur telah melakukan kegitan sosialisasi pengamanan di Dusun Menjaga Desa Macang Tanggar Kecamatan Komodo Kabupaten Manggarai Barat NTT. Kegiatan sosialisasi ini merupakan program yang sudah tertera dalam rencana kerja tahunan 2008 hingga 2011. Kegiatan dilakukan di pada tanggal 28 Agustus 2008 dari pukul 10 hingga pukul 15. Dalam acara sosialisasi yang di rancang oleh Balai Besar KSDA NTT dengan Komodo Survival Program diawali dengan pemberian materi (lisan) terhadap 40 orang peserta yang mewakili dua desa dari Macang Tanggar dan Warloka. Isi materi terdiri dari beberapa topic yaitu : Selayang pandang tentang Cagar Alam Wae Wuul, Kegiatan pengamanan di Kawasan Cagar ALam Wae Wuul dan permasalahannya, kegitan penelitian dan peran serta masyarakat dalam pelestarian Cagar Alam Wae Wuul. Dalam sesi tanya jawab, beberapa masalah yang diutarakan oleh peserta yang hadir adalah mengenai tata batas kawasan (terutama yang bersinggungan dengan pemukiman, termasuk jalan), peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan, peran masyarakat dalam pelestarian CAWW terutama untuk menghindari kebakaran kawasan cagar alam.

Materi Presentasi
Materi sosialisasi adalah leaflet mengenai kompilasi informasi dari pihak-pihak terkait di bawah ini :
1. KSDA  Latar belakang penetapan kawasan, dasar hukum, sejarah penetapan kawasan dan kegiatan pengelolaan kawasan dan rencana kegiatan.
2. Kepolisian  penegakan hukum di bidang kehutanan
3. KSP  Rencana kegiatan survey, pemantauan dan penelitian Biawak Komodo dan kenekaragaman hayati beserta habitatnya di kawasan Cagar Alam Wae Wuul.
4. Kepala Desa Warloka  Peranan masyarakat sekitar kawasan dalam melestarikan Cagar Alam Wae Wuul

Diskusi
Permasalahan yang mengemuka pada kegiatan sosialisasi ini adalah;
1. pelibatan masyarakat dalam menentukan luas wilayah kawasan Cagar Alam Wae Wuul
2. tidak ada koordinasi masyarakat dengan pihak KSDA
3. pelarangan pembangunan jalan antara Menjaga dengan Nanga Nae sedangkan antara dusun Warloka dan Kenari ada jalan penghubung yang melintasi kawasan
4. kesejahteraan masyarakat sekitar CAWW kurang diperhatikan

Rekomendasi
Dari hasil pertemuan dengan masyarakat yang mewakili dua desa, Macang Tanggar dan Warloka, maka diperlukan adanya usaha-usaha yang dilakukan oleh semua pihak yang terkait dalam mencapai tujuan Cagar Alam Wae Wuul yang lestari. Untuk itu, beberapa usulan langkah-langkah pelestarian perlu di lakukan untuk ditindaklanjuti oleh semua pihak terkait, mulai dari pengelola (KSDA), masyarakat dan lembaga non pemerintah yang terlibat.

1. Perlu adanya penataan kembali pal batas-batas kawasan bersama masyarakat sekaligus sosialisai mengenai batas-batas kawasan kepada masyarakat seitar kawasan Cagar Alam Wae Wuul.
2. Koordinasi antara pihak pengelola (Balai Besar KSDA NTT), Masyarakat, Pemda perlu lebih di tingkatkan.
3. Kegiatan sosialisasi perlu lebih sering dilakukan.
4. Pembentukan tim yang melibatkan anggota masyarakat dalam usaha pelestarian kawasan CAWW terutama untuk menghindari kebakaran kawasan.

Incidence of Fish Hook Ingestion by Komodo dragons June 30, 2008

Posted by ekologi in Uncategorized.
Tags: , ,
add a comment

Incidence of Fish Hook Ingestion by Komodo dragons

Tim Jessop1, Jeri Imansyah2, Deni Purwandana2, Achmad Arifiandy2 and Devi S. Opat3

1Department of Wildlife Conservation and Research, Zoos Victoria, PO Box 74 Parkville VIC 3052, Australia

2 Komodo Dragon Species Survival Program Indonesia, Denpasar, Bali, Indonesia.

3 Taman National Komodo, Labuan Bajo, Flores, NTT, Indonesia.

Correspondence to Tim Jessop

(e-mail: tjessop@ zoo.org.au).

The Komodo dragon (Varanus Komodoensis), a large robust monitor lizard, persists on the 5 islands in Eastern Indonesia (Ciofi and deBoer 2004). The waters surrounding these islands are intensively utilized for marine resources and in particular line and net fishing are prolific. For other reptiles, particularly freshwater and marine turtles, incidental injury and mortality through ingestion of fishing hooks during routine foraging activities are not uncommon (Polovina et al. 2000). However, similar incidents of reptile by-catch in terrestrial species is poorly documented even though, many large lizards such as monitors, are semi-aquatic or cohabit and forage within coastal areas in which intense fishing activities persist. Here we report two incidents of ingestion of fishing gear by Komodo dragon during routine monitoring of island populations between 2002- 2006.

Annual mark recapture studies were conducted at 10 sites across 4 islands within Komodo National Park during both 2002 and 2005 and resulted in 827 dragons captures(> post-hatchling size). From this sample, 2 cases of fishhook ingestion were reported. The first case, comprised a small monitor (Animal ID: 00063A9978, 69.35 cm SVL, 7 kg) captured at Loh Buaya (8:39:21.7 S, 119:43:06.2 N) on Rinca Island and appeared to occurred recently as the line protruding from its mouth was still relatively long and the nylon in good condition. Based on the line weight it is suspected that the hook ingested by this lizard was relatively small. This lizard was recaptured in 2005, without any evidence of the protruding fishing line (however if the hook was remaining is unknown) and it had grown 8.75 cm in SVL and increased its mass by 1.45 kg. The second lizard, an adult male (Animal ID: 000643A7EC, 127.75 cm SVL, 41.8 kg) was captured on the 19th June 2004 also from Rinca Island at Loh Tongker (8:45:31.1 S, 119:42:57.3 E) a small coastal valley on the south east coast. In this incident the hook ingested was likely to have been considerably larger and typical of those used for capturing large pelagic species on long line. This hook was shackled with 2 strands of heavy trace wire (Fig 1). In this instance it is believed the hook was ingested several weeks to months earlier as indicated by the lesion induced by abrasion from the trace wire. In 2005, this adult male was recaptured, there was no evidence of the protruding trace, however it was not known if the hook still resided within the animal. The weight of this male had decreased by 8.8 kg from 2004 and 20 kg from its first capture in 2003 despite growing relatively little in length (4 cm in SVL).

Consumptions of fishing hooks by Komodo dragons, albeit rare, is a likely consequence of these lizard’s prodigious scavenging capacity coinciding with discarded fishing gear that finds it way into the intertidal areas exposed on the low tide. As yet we do not know what effects hook ingestion might incur for the specific individuals dragons, however, given that mortality occurs readily in other reptiles, it is possible that at least in the case of the second animal there may be negative consequences.

References

Ciofi, C. & de Boer, M.E. 2004. Distribution and conservation of the Komodo Monitor (Varanus komodoensis). Herpetological Journal 14: 99-107.

Polovina, J.J., Kobayashi, D.R., Ellis, D.M., Seki, M.P., & Balazs, G.H., 2000. Turtles on the edge: Movement of loggerhead turtles (Caretta caretta) along oceanic fronts in the central North Pacific, 1997-1998. Fisheries Oceanography 9(1):71-82.

Ticks on emerged hatchlings of Komodo Dragon June 27, 2008

Posted by ekologi in Uncategorized.
add a comment

Ticks on emerged hatchlings of Komodo Dragon (Varanus komodoensis) on Komodo island, Indonesia

M. JERI IMANSYAH

Komodo Survival Program, Jl Pulau Moyo, Komplek Karantia Blok 2 no 4, Denpasar, Bali 80222, Indonesia

mjimansyah@yahoo.co.id

TIM S. JESSOP

Zoos Victoria, PO Box 74, Parkville, Melbourne, VIC 3052, Australia

tjessop@zoo.org.au

The ticks (Acarina) that parasitise varanid lizards (Sauridae) are mainly from two Genera; Amblyomma and Aponomma (King & Green, 1999). Ticks as ectoparasites consume host blood, cause disease and can function as important vectors for microparasites, which can negatively influence the fitness of reptiles (Main and Bull 2000). The Komodo dragon (Varanus komodoensis), a large monitor lizard, from South Eastern Indonesia has been documented to possess three species of tick including Amblyomma helvolum a generalist, and two host specific species- A. robinsoni and Aponomma komodoense (Auffenberg, 1981). In Zoos, Komodo also reported loaded by A. komodoense that were infested from wild specimens (Burridge et al., 2004). However as yet little is known about the ecology, or the fitness implications, of this host-parasite dynamic. One aspect of this host-parasite dynamic that remains unknown is the possibility that ticks have evolved strategies to parasitise hatchling dragons on emergence from their nests. From a parasites perspective, host environments of juvenile animals, are those that provide the east resistance with respect to immunological (i.e. lack of acquired immunity) or physical (eg skin thickness) barriers could provide greater benefit (reference). Herein we report on the capacity of ticks to parasitise recently emerged hatchling Komodo dragons from three nests on Komodo Island.

In January of each year (2003-2006) a sample of known active nests of V. Komodoensis were caged to enable capture of hatchlings as part of routine annual monitoring of the ecology and life-history of this species in Komodo National Park (Jessop et al., 2004). Prior to emergence in March/April (late wet season), nest cages were monitored twice daily (morning and afternoon coinciding with emergence of hatchlings from the ground) to enable measurement and marking of individual hatchlings prior to release. In 2004, we also examined for the presence of ectoparasites of hatchlings on Komodo Island, one of four extant populations within Komodo National Park.

From the three nests monitored on Komodo Island in 2004 (referred to as LSB1, LL64 and LSB3), 47 hatchling Komodo were captured in March (estimated within 4 hours post-emergence). Together these hatchlings has a mean- weight of 95.53 ± 2.20 gr and SVL 18.78 ± 0.14 cm. Hatchlings from two of the three nests, were found to be carrying nymphal ticks of one species, Aponomma komodoense. Two of the 18 hatchlings (11.11%) from nest LSB1 had ticks, one had 1 tick, the other had 3 (Table 1). Clutch LL64 had 16 individuals, of which 9 (8.333%) carried ticks. The number of ticks ranged from 1 to 20, with an average number of ticks per hatchling of 7.44 ± 2.46. Hatchlings (n =12) from nest LSB2 were not observed to carry ticks.

Table 1. Tick infestation of emerged hatchlings from two of three nests of Komodo dragon Varanus komodoensis on Komodo island.

Nest

Latitude

Longitude

Hatchlings

Number of Ticks

Frequency with ticks

1

2-5

>5

LSB1

8:32:11

119:31:44

18

1

1

0

11 %

LL64

8:33:14

119:30:38

12

2

2

6

83 %

LSB2

8:32:04

119:32:40

16

0

0

0

0 %

Our results indicate that alongside larger Komodo dragons, hatchlings can act as hosts for ticks. By parasitizing hatchlings on emergence, ticks could greatly increase their capacity to find new and potentially more importantly immunologically naïve hosts (i.e. no acquired resistance). Female dragons, which act as hosts for ticks, spend considerable periods of time around the nest both prior to and after oviposition and thus could enable ticks to deposit eggs (that remain quiescent) around the nest site until hatchlings emerge. Seasonal cues, including the conspicuous transition from an extended dry season through to the short summer wet season coinciding with the monsoon represent an important cue for many organisms breeding in the wet-dry tropics of Eastern Indonesia (Kerr and Bull, 2006; Monk et al., 1997). This seasonal cue could provide necessary environmental information enabling nymphal ticks to synchronise their own hatching and questing activity with the emergence of hatchling Komodo dragons (reference). At present we do not know of the specific fitness consequences that ticks impart on their hatchling hosts. While ticks can illicit fitness costs by reducing growth, condition and the locomotor capacity in other lizards, similar consequences for hatchling Komodo dragons remain to be determined (Hanson et al., 2007; Main and Bull, 2000).

Acknowledgement

We thank Ibrahim Payung, Heru Rudiharto, and Zamzam for their assistance during field work. Financial support was provided by a Millennium Post Doctoral Fellowship from the Zoological Society of San Diego (ZSSD) to TSJ. Approval for the research was granted under a MOU between ZSSD and The Nature Conservancy (Indonesia Program) and by the Indonesian Department of Forest Protection and Nature Conservation (PHKA).

References:

Auffenberg, W. 1981. The Behavioral ecology of the Komodo dragon. Gainesville, University Florida Press.

Burridge, M.J., Leight-Anne Simmons, T.Condie. 2004. Control of an exotic tick Aponoma komodoense) infestatation in a Komodo dragon (Varanus komodoensis) exhibit at a zoo in Florida. Journal of Wildlife Medicine. 35(2): 248-249.

Hanson, B.A., P.A.Frank, J.W.Mertins, J.L.Corn. 2007. Tick paralysis of a snake caused by Amblyoma rotundatum (Acari: Ixodidae). Journal of Medical Entomology. 44(1): 155-157.

Jessop, T.J., Sumner, J., Rudiharto, H. Purwandana, D., Imansyah, M.J. & Philips, J.A. 2004. Study on nest distribution, utilization, and selection by Komodo dragon, Varanus komodoensis: implication for conservation and management. Biological Conservation. 117: 463-470.

Kerr, G. D., C.M. Bull,. 2006. Interaction between climate, host refuge use, and tick population dynamics. Parasitology Research. 99: 214-222.

King, D.R. & Green, B. 1999. Goannas: the biology of Varanid lizards. Sydney, New South Wales Press Ltd.

Main, A.R., Bull, C.M. 2000. The impact of tick parasites on the behaviour of the lizard Tiliqua rugosa. Oecologia 122: 574-581.



TRAINING ON POPULATION ESTIMATION ON KOMODO MONITOR June 2, 2008

Posted by ekologi in Uncategorized.
Tags: , , , ,
add a comment

SHORT TRAINING FOR KSDA STAFF ON INTRODUCTION TO POPULATION ESTIMATION USING ECOLOGICAL METHODOLOGY SOFTWARE (KREBS, 2002) FOR MARK RECAPTURE DATA ON KOMODO MONITOR

Ruteng, 19 May 2008

M Jeri Imansyah, Deni Purwandana

Introduction

To increase capacity of staff of KSDA NTT and to give introduction on Mark Recapture methodology and population analysis based on mark recapture data that prepared for Komodo dragon population estimation on Flores, a short training on Introduction of Mark recapture methodology and use of Ecological Methodology (Krebs, 2002) computer program to estimate animal population was carried out in the KSDA NTT Office in Ruteng.

Methodology

Training was carried out during two sessions. The first session included lectures on basic of population study in animal, mark recapture, and application of “Ecological Methodology (Krebs, 2002)” computer program given by the instructor, followed by a discussion where trainees were asking questions and additional information on specific procedures. During the second session, an open discussion went through research methodology applied to animal population size estimates.

Results

The training course was attended by 22 members of staff from Bidang II KSDA NTT. Open discussion mostly dealt with implementation of mark-recapture methods for estimating animal population size on Flores. Species of interest was the Komodo monitor Varanus komodoensis. However, since none of KSDA staff had been involved in previous field work involving mark-recapture, nor they were acquainted with data analysis, the training mostly focused on basic concepts and logistics for the implementation of methods in the field.

Conclusions and Recommendations

  1. The training material was perhaps too advance for KSDA NTT staff, since no one of them has been involved in mark-recapture studies before.
  2. Time available to explain the theory of mark-recapture methods was insufficient and further training sessions should be scheduled along with practical sessions involving KSDA staff in mark-recapture field techniques, for instance in Komodo National Park. Training sessions involving both KSDA NTT and KNP staff are therefore recommended.
  3. Further training sessions to consider the basics of mark-recapture methodology for the Komodo monitor in more details should be carried out, along with training on alternative census methodologies for population size estimates of other wildlife in Komodo National Park and Flores.

Acknowledgements

We thank Luhut Sihombing, the Head of Balai Besar KSDA NTT, and Suprihatna, head of Bidang II KSDA NTT, for organizing the training sessions. The course was part of an MoU between Komodo Survival Program and Balai Besar KSDA NTT. Funds were provided by the European Aquaria and Zoos Association.

Biawak Komodo telah menghilang dari Flores bagian Timur Laut March 18, 2008

Posted by ekologi in Uncategorized.
Tags: , , ,
add a comment

Biawak Komodo telah menghilang di Flores bagian Timur Laut, demikian lah hasil laporan yang dilakukan oleh Balai KSDA NTT II bersama tim dari Zoological Society of London pada tahun 2005. Seperti diketahui, Biawak Komodo (Varanus komodoensis) memiliki sebaran alami yang sangat sempit dibandingan dengan predator terrestrial lainnya dan hanya ditemukan pada lima pulau di Tenggara Indonesia.  Pulau-pulau Komodo, Rinca, Gili Motang dan Nusa Kode, merupakan bagian dari Taman Nasional Komodo, dan  Pulau Flores yang meskipun terletak di luar kawasan Taman Nasional, akan tetapi memiliki dua Cagar Alam, yaitu Wae Wuul di pantai Barat dan Wolo Tado di pantai Utara merupakan area dimana Biawak Komodo dilindungi. Sebagian dari pantai Utara Flores, yaitu semenanjung Kota baru, merupakan area yang juga dilindungi, di daerah ini Komodo terkahir kali ditemukan pada tahun 1985. Survey terbaru melaporkan penurunan yang signifikan sebaran biawak Komodo di bagian Barat dan Utara Flores, dengan dugaan populasi 10 kali lebih rendah dari pada populasi di Taman Nasional Komodo. Kami melakukan survey di semenanjung Detusoko dan Kota baru, sepanjang pantai Timur Laut Flores, untuk menilai keberadaan biawak Komodo dan membandingkannya dengan data BKSDA dari Dirjen PHKA,  Departemen Kehutanan Indonesia pada tahun 1985.

Kami tidak menemukan adanya bukti kehadiran Komodo pada 10 lokasi tempat diletakkan perangkap-perangkap selama masa survey.  Penurunan jumlah kepadatan populasi mangsa, arson (praktek perburuan rusa liar) dan pembakaran lahan merupakan gangguan utama hidupan liar di semenanjung Detusoko dan Kota baru.  Tidak adanya komodo di daerah Timur Laut Flores  memberikan peringatan dan harus merangsang untuk dilakukan penanganan dalam rangkan melindungi populasi Biawak Komodo yang masih tersisa di Barat dan Utara Flores, yang pada saat ini populasinya terganggu oleh aktifitas manusia.  Hasil dari penelitian ini dan penelitian sebelumnya merekomendasikan perlunya pengendalian perburuan liar (khususnya rusa, Cervus timorensis), pembakaran savanna, ladang berpindah di pantai Barat, dari Nisar hingga Cagar Alam Wae Wuul, dan pantai Utara dari Pota hingga Riung.

Hingga saat ini, populasi biawak Komodo yang paling aman adalah di kawasan Taman Nasional Komodo, itupun populasi di pulau kecil Nusa Kode dan Gili Motang menunjukkan adanya penurunan populasi yang signifikan (Imansyah dkk. 2008. unpublished report). Sehingga pemantauan populasi jangka panjang perlu dilakukan untuk menjaga satwa khas Indonesia ini tidak mengalami kepunahan lebih lanjut.

 

populasi dan survival biawak Komodo (Varanus komodoensis) March 11, 2008

Posted by ekologi in Uncategorized.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

RINGKASAN

 

LAPORAN

DUGAAN KELIMPAHAN, KEPADATAN, LAJU SURVIVAL TAHUNAN, DAN

LAJU PERTUMBUHAN POPULASI BIAWAK KOMODO (Varanus komodoensis)

DI BALAI TAMAN NASIONAL KOMODO, INDONESIA

 

M Jeri Imansyah, Tim S Jessop, Claudio Ciofi, Deni Purwandana, Achmad Ariefiandy,

Heru Rudiharto, Aganto Seno, Devi S Opat, Tresna Noviandy, Andy Phillips

 

Untuk mendapatkan dugaan kelimpahan dan kepadatan yang lebih akurat, metode Capture Mark Release Recapture (CMRR) atau yang lebih dikenal dengan Mark Recapture telah digunakan selama 2002-2006 meliputi 10 lembah di empat pulau utama dalam wilayah Taman Nasional Komodo sebagai area studi. Dari hasil studi yang dilakukan didapat bahwa populasi biawak Komodo yang terdapat di wilayah Taman Nasional Komodo secara keseluruhan adalah sekitar 1435 individu, meliputi pulau Komodo, Rinca, Gili Motang, dan Nusa Kode. Kelimpahan dan kepadatan biawak Komodo di masing-masing lembah berbeda secara signifikan (tabel 1), dimana lembah besar memiliki kelimpahan yang tinggi sedangkan lembah kecil menunjukkan sebaliknya. Kepadatan tertinggi tercatat pada lembah yang kecil (Loh Wau, Komodo, dan Loh Tongker, Rinca. Namun kelimpahan dan kepadatan antar pulau tidak berbeda secara signifikan (Tabel 2). Kelimpahan tertinggi tercatat di pulau Komodo (628.50)[U1]  sedangkan terendah di Nusa Kode (75.63). Kepadatan tertingggi tercatat di pulau Rinca (17.99 ind/km2) sedangkan terendah di Nusa Kode (10.36 ind/km2).

 

Lokasi Lembah

Pulau

Luas (km2)

Kelimpahan (individu)

Kepadatan (ind/km2)

Gili Motang

Gili Motang

3.90

47.60 ± 6.56

12.21 ± 1.68

Loh Baru

Rinca

5.48

95.55 ± 8.43

17.44 ± 1.54

Loh Buaya

Rinca

5.50

75.50 ± 5.25

13.73 ± 0.95

Loh Dasami

Rinca

3.54

43.50 ± 4.55

12.29 ± 1.29

Loh Lawi

Komodo

10.03

153.76 ± 17.44

15.33 ± 1.74

Loh Liang

Komodo

8.49

92.48 ± 5.98

10.89 ± 0.67

Loh Sebita

Komodo

5.81

100.70 ± 41.46

17.33 ± 7.14

Loh Tongker

Rinca

2.64

75.20 ± 6.59

28.48 ± 2.50

Loh Wau

Komodo

0.83

22.74 ± 2.23

27.40 ± 2.69

Nusa Kode

Nusa Kode

1.07

11.09 ± 3.09

10.36 ± 2.89

Tabel 1. Kelimpahan dan kepadatan biawak Komodo di tiap lokasi studi

 

Pulau

Kelimpahan[U2] 

Kepadatan[U3] 

Komodo

628.50

17.60

Rinca

615.27

17.99

Gili Motang

115.75

12.21

Nusa Kode

75.63

10.36

TOTAL

1435.15

 

Tabel 2. Kelimpahan dan kepadatan rata-rata populasi biawak Komodo di tiap pulau.

*) luas pulau di sini merupakan luas total lembah-lembah yang memiliki kesamaan karakteristik dengan lembah-lembah lokasi studi.

 

Secara umum terdapat beberapa perbedaan kondisi antar pulau pada populasi biawak Komodo di TNK, khususnya kepadatan, tingkat survivalitas, dan perkembangan populasi. Biawak Komodo di pulau besar menunjukkan tingkat kelimpahan dan kepadatan yang relatif sama dan cukup besar bahkan dapat dikatakan cukup aman karena berada di atas 500 individu, yang merupakan jumlah minimun efektif untuk mempertahankan keragaman genetik satu jenis yang terancam punah (Lande, 1988). Namun pada pulau kecil, Gili Motang dan Nusa Kode, menunjukkan tingkat kelimpahan dan kepadatan yang rendah, bahkan kelimpahan populasinya berada pada atau bahkan di bawah ambang batas teoritis dalam menentukan gejala kepunahan, yang biasanya 100 individu dalam suatu populasi (Lande & Barrowclough, 1987).

 

Studi ini mengindikasikan bahwa populasi di pulau kecil Gili Motang dan Nusa Kode perlu mendapat perhatian yang lebih intensif untuk mencegah penurunan lebih lanjut bahkan kepunahan lokal. Terdapat pula gambaran bahwa perbedaan berbagai aspek biologi dan ekologi biawak Komodo antar pulau mengindikasikan adanya kebutuhan untuk mengembangankan rencana spefisik pulau yang disesuaikan dengan kondisi populasi setempat.



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.