jump to navigation

Biawak Komodo telah menghilang dari Flores bagian Timur Laut March 18, 2008

Posted by ekologi in Uncategorized.
Tags: , , ,
add a comment

Biawak Komodo telah menghilang di Flores bagian Timur Laut, demikian lah hasil laporan yang dilakukan oleh Balai KSDA NTT II bersama tim dari Zoological Society of London pada tahun 2005. Seperti diketahui, Biawak Komodo (Varanus komodoensis) memiliki sebaran alami yang sangat sempit dibandingan dengan predator terrestrial lainnya dan hanya ditemukan pada lima pulau di Tenggara Indonesia.  Pulau-pulau Komodo, Rinca, Gili Motang dan Nusa Kode, merupakan bagian dari Taman Nasional Komodo, dan  Pulau Flores yang meskipun terletak di luar kawasan Taman Nasional, akan tetapi memiliki dua Cagar Alam, yaitu Wae Wuul di pantai Barat dan Wolo Tado di pantai Utara merupakan area dimana Biawak Komodo dilindungi. Sebagian dari pantai Utara Flores, yaitu semenanjung Kota baru, merupakan area yang juga dilindungi, di daerah ini Komodo terkahir kali ditemukan pada tahun 1985. Survey terbaru melaporkan penurunan yang signifikan sebaran biawak Komodo di bagian Barat dan Utara Flores, dengan dugaan populasi 10 kali lebih rendah dari pada populasi di Taman Nasional Komodo. Kami melakukan survey di semenanjung Detusoko dan Kota baru, sepanjang pantai Timur Laut Flores, untuk menilai keberadaan biawak Komodo dan membandingkannya dengan data BKSDA dari Dirjen PHKA,  Departemen Kehutanan Indonesia pada tahun 1985.

Kami tidak menemukan adanya bukti kehadiran Komodo pada 10 lokasi tempat diletakkan perangkap-perangkap selama masa survey.  Penurunan jumlah kepadatan populasi mangsa, arson (praktek perburuan rusa liar) dan pembakaran lahan merupakan gangguan utama hidupan liar di semenanjung Detusoko dan Kota baru.  Tidak adanya komodo di daerah Timur Laut Flores  memberikan peringatan dan harus merangsang untuk dilakukan penanganan dalam rangkan melindungi populasi Biawak Komodo yang masih tersisa di Barat dan Utara Flores, yang pada saat ini populasinya terganggu oleh aktifitas manusia.  Hasil dari penelitian ini dan penelitian sebelumnya merekomendasikan perlunya pengendalian perburuan liar (khususnya rusa, Cervus timorensis), pembakaran savanna, ladang berpindah di pantai Barat, dari Nisar hingga Cagar Alam Wae Wuul, dan pantai Utara dari Pota hingga Riung.

Hingga saat ini, populasi biawak Komodo yang paling aman adalah di kawasan Taman Nasional Komodo, itupun populasi di pulau kecil Nusa Kode dan Gili Motang menunjukkan adanya penurunan populasi yang signifikan (Imansyah dkk. 2008. unpublished report). Sehingga pemantauan populasi jangka panjang perlu dilakukan untuk menjaga satwa khas Indonesia ini tidak mengalami kepunahan lebih lanjut.

 

populasi dan survival biawak Komodo (Varanus komodoensis) March 11, 2008

Posted by ekologi in Uncategorized.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

RINGKASAN

 

LAPORAN

DUGAAN KELIMPAHAN, KEPADATAN, LAJU SURVIVAL TAHUNAN, DAN

LAJU PERTUMBUHAN POPULASI BIAWAK KOMODO (Varanus komodoensis)

DI BALAI TAMAN NASIONAL KOMODO, INDONESIA

 

M Jeri Imansyah, Tim S Jessop, Claudio Ciofi, Deni Purwandana, Achmad Ariefiandy,

Heru Rudiharto, Aganto Seno, Devi S Opat, Tresna Noviandy, Andy Phillips

 

Untuk mendapatkan dugaan kelimpahan dan kepadatan yang lebih akurat, metode Capture Mark Release Recapture (CMRR) atau yang lebih dikenal dengan Mark Recapture telah digunakan selama 2002-2006 meliputi 10 lembah di empat pulau utama dalam wilayah Taman Nasional Komodo sebagai area studi. Dari hasil studi yang dilakukan didapat bahwa populasi biawak Komodo yang terdapat di wilayah Taman Nasional Komodo secara keseluruhan adalah sekitar 1435 individu, meliputi pulau Komodo, Rinca, Gili Motang, dan Nusa Kode. Kelimpahan dan kepadatan biawak Komodo di masing-masing lembah berbeda secara signifikan (tabel 1), dimana lembah besar memiliki kelimpahan yang tinggi sedangkan lembah kecil menunjukkan sebaliknya. Kepadatan tertinggi tercatat pada lembah yang kecil (Loh Wau, Komodo, dan Loh Tongker, Rinca. Namun kelimpahan dan kepadatan antar pulau tidak berbeda secara signifikan (Tabel 2). Kelimpahan tertinggi tercatat di pulau Komodo (628.50)[U1]  sedangkan terendah di Nusa Kode (75.63). Kepadatan tertingggi tercatat di pulau Rinca (17.99 ind/km2) sedangkan terendah di Nusa Kode (10.36 ind/km2).

 

Lokasi Lembah

Pulau

Luas (km2)

Kelimpahan (individu)

Kepadatan (ind/km2)

Gili Motang

Gili Motang

3.90

47.60 ± 6.56

12.21 ± 1.68

Loh Baru

Rinca

5.48

95.55 ± 8.43

17.44 ± 1.54

Loh Buaya

Rinca

5.50

75.50 ± 5.25

13.73 ± 0.95

Loh Dasami

Rinca

3.54

43.50 ± 4.55

12.29 ± 1.29

Loh Lawi

Komodo

10.03

153.76 ± 17.44

15.33 ± 1.74

Loh Liang

Komodo

8.49

92.48 ± 5.98

10.89 ± 0.67

Loh Sebita

Komodo

5.81

100.70 ± 41.46

17.33 ± 7.14

Loh Tongker

Rinca

2.64

75.20 ± 6.59

28.48 ± 2.50

Loh Wau

Komodo

0.83

22.74 ± 2.23

27.40 ± 2.69

Nusa Kode

Nusa Kode

1.07

11.09 ± 3.09

10.36 ± 2.89

Tabel 1. Kelimpahan dan kepadatan biawak Komodo di tiap lokasi studi

 

Pulau

Kelimpahan[U2] 

Kepadatan[U3] 

Komodo

628.50

17.60

Rinca

615.27

17.99

Gili Motang

115.75

12.21

Nusa Kode

75.63

10.36

TOTAL

1435.15

 

Tabel 2. Kelimpahan dan kepadatan rata-rata populasi biawak Komodo di tiap pulau.

*) luas pulau di sini merupakan luas total lembah-lembah yang memiliki kesamaan karakteristik dengan lembah-lembah lokasi studi.

 

Secara umum terdapat beberapa perbedaan kondisi antar pulau pada populasi biawak Komodo di TNK, khususnya kepadatan, tingkat survivalitas, dan perkembangan populasi. Biawak Komodo di pulau besar menunjukkan tingkat kelimpahan dan kepadatan yang relatif sama dan cukup besar bahkan dapat dikatakan cukup aman karena berada di atas 500 individu, yang merupakan jumlah minimun efektif untuk mempertahankan keragaman genetik satu jenis yang terancam punah (Lande, 1988). Namun pada pulau kecil, Gili Motang dan Nusa Kode, menunjukkan tingkat kelimpahan dan kepadatan yang rendah, bahkan kelimpahan populasinya berada pada atau bahkan di bawah ambang batas teoritis dalam menentukan gejala kepunahan, yang biasanya 100 individu dalam suatu populasi (Lande & Barrowclough, 1987).

 

Studi ini mengindikasikan bahwa populasi di pulau kecil Gili Motang dan Nusa Kode perlu mendapat perhatian yang lebih intensif untuk mencegah penurunan lebih lanjut bahkan kepunahan lokal. Terdapat pula gambaran bahwa perbedaan berbagai aspek biologi dan ekologi biawak Komodo antar pulau mengindikasikan adanya kebutuhan untuk mengembangankan rencana spefisik pulau yang disesuaikan dengan kondisi populasi setempat.