jump to navigation

populasi dan survival biawak Komodo (Varanus komodoensis) March 11, 2008

Posted by ekologi in Uncategorized.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

RINGKASAN

 

LAPORAN

DUGAAN KELIMPAHAN, KEPADATAN, LAJU SURVIVAL TAHUNAN, DAN

LAJU PERTUMBUHAN POPULASI BIAWAK KOMODO (Varanus komodoensis)

DI BALAI TAMAN NASIONAL KOMODO, INDONESIA

 

M Jeri Imansyah, Tim S Jessop, Claudio Ciofi, Deni Purwandana, Achmad Ariefiandy,

Heru Rudiharto, Aganto Seno, Devi S Opat, Tresna Noviandy, Andy Phillips

 

Untuk mendapatkan dugaan kelimpahan dan kepadatan yang lebih akurat, metode Capture Mark Release Recapture (CMRR) atau yang lebih dikenal dengan Mark Recapture telah digunakan selama 2002-2006 meliputi 10 lembah di empat pulau utama dalam wilayah Taman Nasional Komodo sebagai area studi. Dari hasil studi yang dilakukan didapat bahwa populasi biawak Komodo yang terdapat di wilayah Taman Nasional Komodo secara keseluruhan adalah sekitar 1435 individu, meliputi pulau Komodo, Rinca, Gili Motang, dan Nusa Kode. Kelimpahan dan kepadatan biawak Komodo di masing-masing lembah berbeda secara signifikan (tabel 1), dimana lembah besar memiliki kelimpahan yang tinggi sedangkan lembah kecil menunjukkan sebaliknya. Kepadatan tertinggi tercatat pada lembah yang kecil (Loh Wau, Komodo, dan Loh Tongker, Rinca. Namun kelimpahan dan kepadatan antar pulau tidak berbeda secara signifikan (Tabel 2). Kelimpahan tertinggi tercatat di pulau Komodo (628.50)[U1]  sedangkan terendah di Nusa Kode (75.63). Kepadatan tertingggi tercatat di pulau Rinca (17.99 ind/km2) sedangkan terendah di Nusa Kode (10.36 ind/km2).

 

Lokasi Lembah

Pulau

Luas (km2)

Kelimpahan (individu)

Kepadatan (ind/km2)

Gili Motang

Gili Motang

3.90

47.60 ± 6.56

12.21 ± 1.68

Loh Baru

Rinca

5.48

95.55 ± 8.43

17.44 ± 1.54

Loh Buaya

Rinca

5.50

75.50 ± 5.25

13.73 ± 0.95

Loh Dasami

Rinca

3.54

43.50 ± 4.55

12.29 ± 1.29

Loh Lawi

Komodo

10.03

153.76 ± 17.44

15.33 ± 1.74

Loh Liang

Komodo

8.49

92.48 ± 5.98

10.89 ± 0.67

Loh Sebita

Komodo

5.81

100.70 ± 41.46

17.33 ± 7.14

Loh Tongker

Rinca

2.64

75.20 ± 6.59

28.48 ± 2.50

Loh Wau

Komodo

0.83

22.74 ± 2.23

27.40 ± 2.69

Nusa Kode

Nusa Kode

1.07

11.09 ± 3.09

10.36 ± 2.89

Tabel 1. Kelimpahan dan kepadatan biawak Komodo di tiap lokasi studi

 

Pulau

Kelimpahan[U2] 

Kepadatan[U3] 

Komodo

628.50

17.60

Rinca

615.27

17.99

Gili Motang

115.75

12.21

Nusa Kode

75.63

10.36

TOTAL

1435.15

 

Tabel 2. Kelimpahan dan kepadatan rata-rata populasi biawak Komodo di tiap pulau.

*) luas pulau di sini merupakan luas total lembah-lembah yang memiliki kesamaan karakteristik dengan lembah-lembah lokasi studi.

 

Secara umum terdapat beberapa perbedaan kondisi antar pulau pada populasi biawak Komodo di TNK, khususnya kepadatan, tingkat survivalitas, dan perkembangan populasi. Biawak Komodo di pulau besar menunjukkan tingkat kelimpahan dan kepadatan yang relatif sama dan cukup besar bahkan dapat dikatakan cukup aman karena berada di atas 500 individu, yang merupakan jumlah minimun efektif untuk mempertahankan keragaman genetik satu jenis yang terancam punah (Lande, 1988). Namun pada pulau kecil, Gili Motang dan Nusa Kode, menunjukkan tingkat kelimpahan dan kepadatan yang rendah, bahkan kelimpahan populasinya berada pada atau bahkan di bawah ambang batas teoritis dalam menentukan gejala kepunahan, yang biasanya 100 individu dalam suatu populasi (Lande & Barrowclough, 1987).

 

Studi ini mengindikasikan bahwa populasi di pulau kecil Gili Motang dan Nusa Kode perlu mendapat perhatian yang lebih intensif untuk mencegah penurunan lebih lanjut bahkan kepunahan lokal. Terdapat pula gambaran bahwa perbedaan berbagai aspek biologi dan ekologi biawak Komodo antar pulau mengindikasikan adanya kebutuhan untuk mengembangankan rencana spefisik pulau yang disesuaikan dengan kondisi populasi setempat.


RINGKASAN PENELITIAN EKOLOGI BIAWAK KOMODO January 13, 2008

Posted by ekologi in Uncategorized.
Tags: , , , , , , , , , ,
add a comment

RINGKASAN PENELITIAN EKOLOGI BIAWAK KOMODO

DI BALAI TAMAN NASIONAL KOMODO, INDONESIA, 2002-2006

Tim S Jessop, Claudio Ciofi, M Jeri Imansyah, Deni Purwandana, Achmad Ariefiandi,

Heru Rudiharto, Aganto Seno, Ibrahim, Andy Phillips



PENDAHULUAN

Pada tahun 2002, sebuah proyek penelitian selama 5 tahun diinisiasi di Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) untuk membangun dasar-dasar pemantauan dan identifikasi kecenderungan ekologis pada populasi biawak Komodo dan spesies mangsa utamanya. Dalam pelaksanaan penelitian ini, 10 lokasi studi dipilih mencakup seluruh kawasan BTNK untuk menyediakan sebuah dasar yang dapat secara nyata mengembangkan manajemen hidupan liar dan konservasi spesies terrestrial kunci. Berikut adalah ringkasan beberapa kunci temuan dari penelitian yang dilaksanakan antara tahun 2002-2006. Pada bagian lampiran memuat daftar beberapa laporan dan publikasi terkini yang dihasilkan dari proyek ini sebagai dasar dalam penyediaan informasi tambahan.


TEMUAN KUNCI HASIL PENELITIAN

1. Ekologi Bersarang

Kegiatan besarang oleh betina biawak Komodo menunjukkan kencenderungan penurunan dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2002, sebanyak dua puluh tujuh (27) sarang tercatat aktif, namun pada tahun-tahun berikutnya terjadi penurunan jumlah sarang aktif menjadi 22, 17, 17, dan 7 pada 2003, 2004, 2005, dan 2006, secara berturut-turut. Kelimpahan sarang pada biawak Komodo secara positif berkorelasi dengan luas lembah (dalam hal ini semakin besar lembah, semakin banyak pula sarang yang ditemukan). Kebanyakan betina yang bersarang lebih memilih untuk menggunakan sarang gundukan (sarang gundukan ex burung Gosong Megapodius reindwardt) dari pada tipe lain, yaitu sarang lubang tanah dan sarang bukit. Setelah melatakkan telurnya, betina biawak Komodo akan menjaga sarang selama sekitar tiga bulan. Penjagaan sarang ini nampaknya berkaitan dengan masa berkurangnya aktivitas mencari makan pada betina sebagaimana teramati terjadinya pengurangan berat badan (rata-rata 3.42 kg). Interval aktivitas bersarang pada betina menujukkan bervariasi, Dimana hanya satu betina yang tercatat bersarang selama empat tahun berturut-turut, dua betina aktif selama dua tahun berturut-turut, dan kebanyakan betina tercatat hanya aktif sekali. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan betina berbiak tidak selalu setiap tahun. Setiap tahun, antara 12 -36 tetasan akan keluar dari sarang sekitar bulan February atau Maret (rata-rata 19.56 tetasan per sarang per tahun). Tetasan-tetasan tersebut memiliki rata-rata ukuran SVL 18.48 cm, panjang tubuh total 42.20 cm, dan berat 91.43 grams.

Grafik 1. Kecenderungan aktivitas bersarang oleh Biawak Komodo

Grafik 2. Berat badan betina selama masa bersarang (SR) dan non bersarang (NSR).


2. Pergerakan Spatial dan Wilayah Aktivitas

Pergerakan pada tetasan dari sarang mereka menunjukkan pola yang secara adalah linear (lurus) dan konsisten dengan natal dispersal. Jarak pergerakan harian dan ukuran wilayah aktivitas pada tetasan secara signifikan lebih kecil dibandingkan dengan anakan. Namun, terdapat kesamaan penggunaan habitat pada kedua kelas biawak Komodo yang belum dewasa ini dalam menggunakan hutan musim keraing dari pada tipe habita lainnya. Selama masa awal hidup mereka, tetasan sangat arboreal dibandingkan anakan, dan tingkat arboreal mereka sangatlah kuat berkorelasi dengan ukuran tubuh individual.

Pada Komodo dewasa, aktivitas baik betina maupun jantan menunjukkan variasi bulanan untuk jarak pergerakan harian dan ukuran wilayah aktivitas. Betina yang bersarang menunjukkan aktivitas yang selalu berpusat di sarang yang mereka jaga selama masa bersarang (Agustus hingga Desember). Betina bersaran mengalami peningkatan jarak pergerakan harian setelah bulan ketiga. Namun, wilayah inti mereka tidak menunjukkan perbedaan bulanan yang signifikan. Jarak pergerakan harian pada Komodo dewasa jantan bervariasi stiap bulannya. Pergerakan tertinggi pada jantan dewasa tercatat pada bulan Juni, ketika musim kawin dimulai, dan terendah pad abulan September, ketika musim kawin berakhir dan betina mulai bersarang.

Secara umum, jarak pergerakan harian dan ukuran wilayah aktivitas pada biawak Komodo berukuran lebih besar memiliki jarak dan ukuran yang secara signifikan lebih besar dari pada Komodo berukuran lebih kecil. jarak pergerakan dan ukuran luas wilayah aktivitas secara signifikan dan positif berkorelasi dengan ukuran tubuh individu. Perbedaan dalam ekologi spasial ini menunjukkan terdapatnya perubahan penting dalam tekanan seleksi yang berlaku pada setiap kelas ukuran yang berbeda pada biawak Komodo.

Table 1. Average of rates of movement (m) and size of home ranges (ha) for each size class.

Daily movement

Home range

Hatchling

32.61

3.02

Juvenile

129.14

24.31

Nesting Female

285.82

75.17

Adult Male

573.00

705.00


3. Dugaan Kepadatan Mangsa

Indeks tahunan kepadatan spesies mangsa besar untuk biawak Komodo, Rusa Timor (Cervus timorensis) dan Kerbau air (Bubalus bubalis) dinilai setiap tahunnya dari 2003-2006. Indeks tahuna kepadatan rusa mengindikasikan kecenderungan penurunan dalam empat tahun terakhir. Kepadatan mangsa diketahui berkaitan secara positif dengan luasan pulau, di mana pulau besar, Komodo dan Rinca, secara signifikan lebih tinggi dari pada kepadatan di pulau kecil, Nusa Kode dan Gili Motang. Kepadatan tertinggi tercatat di pulau Komodo, sedangkan terendah di Gili Motang. Indeks kepadatan kerbau di pulau Rinca menunjukkan kecenderungan berfluktuasi selama empat tahun terakhir ini, sedangkan di pulau Komodo cenderung stabil.

Grafik 3. Indeks kepadatan tiap pulau untuk Rusa Timor (a) dan Kerbau Air (b).


4. Dugaan Populasi dan Kepadatan

Ekstrapolasi untuk melakukan pendugaan kelimpahan populasi di pulau besar, Komodo dan Rinca, tidak memungkinkan dilakukan karena perbedaan mencolok tipe habitat di kedua pulau tersebut. Namun ekstrapolasi dapat dilakukan untuk pulau kecil, Nusa Kode dan Gili Motang, yang memiliki tipe habitat lebih seragam. Kelimpahan populasi di pulau Nusa Kode diduga terdapat 86,5 individu; sedangkan di Gili Motang diduga berada pada tingkat 126,8 individu. Kepadatan biawak Komodo secara signifikan berbeda antara tiap pulau. Populasi di pulau Rinca secara signifkan lebih padat (30.58 individu / km2) dari pada populasi di tiga pulau lainnya. Kepadatan biawak Komodo secara signifkan berkorelasi positif kuat dengan indeks kepadatan rusa pada masing-masing pulau. Hasil dugaan kelimpahan populasi di pulau Nusa Kode dan Gili Motang saat ini berada pada tingkat sekitar atau bahkan dibawah beberapa batas teoritis yang digunakan untuk menandai terjadinya gejala kepunahan. Stokastisiti (faktor-faktor tidak terduga yang bersifak buruk) demografik seringkali merupakan komponen utama ancaman terhadap viabilitas ukuran populasi pada tingkatan populasi yang berjumlah 100 individu atau kurang.

Table 2. Dugaan kelimpahan dan kepadatan biawak Komodo.

Lokasi

Ukuran area studi (km2)

Kelimpahan

Interval CI (95%)

Kepadatan /km2

Komodo

Loh Sebita

4.39

100.70

19.44-181.96

22.99

Loh Liang

6.42

92.48

80.76 -104.19

14.43

Loh Lawi

6.79

153.76

119.58 -187.93

15.24

Loh Wau

0.93

22.74

18.38 – 27.10

22.64

Average

18.82

Rinca

Loh Buaya

3.26

75.51

65.21 – 85.81

23.16

Loh Baru

3.02

95.55

79.03 – 112.08

31.63

Loh Tongker

1.56

75.20

62.27 – 88.12

48.20

Loh Dasami

2.25

43.53

34.61 – 52.44

19.35

Average

30.58

Gili Motang

3.49

47.60

34.75 – 60.45

13.38

Nusa Kode

0.94

11.09

4.95 – 17.05

11.80


5. Implikasi Terhadap Konservasi

  1. Penelitian ini talah menyediakan bukti bahwa ukuran tahunan populasi berbiak biawak Komodo relatif kecil dan bervariatif, mengindikasikan bahwa rekrutmen tahunan anakan (tetasan) hanya akan berjumlah beberapa ratus individu saja. Pemantauan jumlah betina bersarang mewakili komponen penting dalam menilai kecenderungan populasi pulau begitu juga upaya untuk dapat memahami faktor-faktor yang mempengaruhi variasi tahunan jumlah betina berbiak.
  2. Nampaknya potensi dispersal pada semua kelas umur biawak Komodo relatif terbatasi dalam secara ekologi dan evolusi. Penelitian lebih lanjut dalam ekologi spasial spesies ini penting untuk dapat menentukan pergerakan jarak jauh (dalam hal ini kaitannya dengan aliran genetik) antara populasi. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa angka dispersal antar pulau tidaklah mencukupi untuk memulihkan populasi pulau yang berada dalam kondisi menurun atau bahkan menuju kepunahan.
  3. Ketersediaan mangsa, sangat jelas berpengaruh terhadap evolusi dan ekologi populasi biawak Komodo.
  4. Dibandingkan dengan pulau besar, Komodo dan Rinca, populasi biawak Komodo di pulau kecil, Nusa Kode dan Gili Motang, menunjukkan perbedaan yang signifikan baik pada tingkatan parameter individu maupun populasi. Berdasar pada meningkatnya potensi proses-proses genetik dan demografik yang dapat mengarahkan populasi kecil kepada kepunahan-pulau, pengelola BTNK hendaklah memulai dan menjaga keberlanjutan pemantauan tahunan terhadap populasi pulau kecil. Upaya ini akan memungkinkan para pengelola untuk mengukur kecenderungan demografik jangka panjang dan menyediakan dasar-dasar untuk mengukur tindakan yang diperlukan sebagai tanggapan dalam menghadapi kecenderungan penurunan pada populasi.
  5. Secara keseluruhan, terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa ketersediaan mangsa lokal, secara khusus dipengaruhi luasan pulai, seiring dengan terbatasnya dispersal antara populasi pulau biawak Komodo merupakan faktor utama yang dapat mengarahkan pola-pola ekologi yang nampak pada setiap populasi. Perbedaan nilai penting yang jelas ini membutuhkan protokol manajemen yang sangat spesifik-pulau untuk dapat mengoptimalkan konservasi spesies ini.


6. Kesenjangan Pengetahuan

  1. Berdasar panjangnya life-history biawak Komodo, sangatlah penting untuk menjaga keberlanjutan pemantauan jangka panjang, paling tidak 10-15 tahun, untuk dapat memastikan diperolehnya pemahaman menyeluruh akan dinamika populasi spesies dalam prioritas konservasi tinggi ini.
  2. Upaya-upaya dalam skala luas untuk dapat memahami hubungan tri-trophik antara iklim, kualitas habitat, dan dinamika populasi akan mangsa dan predator dalam BTNK sangatlah penting untuk dapat memahami proses dan sistem yang berlangsung.
  3. Diperlukan juga pemahaman memahami terhadap integrasi potensi gangguan antrophik setiap pulau (berkaitan dengan aktivitas oleh manusia) yang dapat berdampak paling tinggi terhadap populasi (misalnya untuk menduga kapan aktivitas manusia dapat berpengaruh terhadap populasi yang spesifik ?)


7. Rekomendasi

  1. Studi jangka panjang dan pemantauan lebih lanjut terhadap spesies ini, terutama implementasi teknik pemberian PIT tag untuk studi ­mark-recapture, pemantauan tahunan aktivitas bersarang, dan pendugaan kepadatan tahunan mangsa. Ini akan menyediakan informasi yang dapat diandalkan bagi para pengelola, terutama mengenai demografi, survival rate, pola penggunaan spasial, kecenderungan status reproduksi, dan kecenderungan ketersediaan mangsa bagi biawak Komodo.
  2. Studi genetik lebih lanjut untuk dapat menyediakan informasi struktus populasi biawak Komodo.
  3. Pengelola BTNK perlu untuk meningkatkan pengamanan terhadap pulau-pulau kecil, terutama Gili Motang, termasuk aktivitas patroli daratan di dalamnya.